Jumat, 24 Juni 2011

Kenapa Aku Tidak Suka Sinetron

Bermain video game tapi di samping ada mama yang nonton sinetron, membuatku otomatis sesekali melirik sinetron. Jadi saya jadi tahu sedikit jalan cerita sinetron yang mama saya tonton, padahal saya paling nggak suka dengan yang namanya sinetron. Kalau menonton sinetron itu, saya kebanyakan mengkritik keanehan-keanehan dalan sinetron itu. Jadi saya akan membahas tentang keanehan-keanehan dalam sinetron yang biasanya tidak saya temui di film-film luar negri.
1.    Selalu berdandan seperti mau ke pesta
Ini adalah yang selalu kutertawakan kalau menonton sinetron. Kalau memang ceritanya dia bekerja di kantor atau sedang pergi ke pesta, wajar saja kalau si tokoh berdandan lengkap memakai eye shadow, maskara dan lipstik. Yang saya lihat ini, si tokoh (yang jahat apalagi) sedang duduk-duduk di rumah atau sedang di dapur tapi dandanannya... wuih, lengkap... Kayaknya “every day party” deh. Kadang anehnya lagi, diceritakan si tokoh baru bangun tidur tapi dandanannya lengkap. Emangnya secepat itu kah berdandan?  Jangan-jangan make-up nya tidak di hapus sebelum tidur.... LOL...
2.       Pemeran utama yang terlalu baik dan selalu sial
Ada saja masalah yang dialami si pemeran utama, pokoknya sial banget deh.  Sudah begitu, si tokoh Cuma menangis dan pasrah, sampai papaku sering bercelutuk, “Nih orang kok setiap hari menangis?”. Sepertinya tidak ada usaha untuk merubah nasibnya yang buruk itu.
3.       Peran antagonis yang judes dan jahatnya minta ampun
Pokoknya geregetan banget melihat tokoh-tokoh jahat di sinetron, jahat banget dan suka maki-maki. Lalu entah kenapa dibuat si tokoh jahat selalu jahat, tidak ada baiknya sedikitpun dan tidak ada kata menyesal buat si jahat.
4.       Kadang cerita awalnya meniru dari film luar negeri
Ini sudah bukan jadi rahasia lagi. Sudah terlalu banyak sinetron Indonesia yang awalnya meniru cerita serial drama luar negeri. Yang paling banyak itu dari drama Jepang dan Korea.
5.       Pembuat naskah cerita yang sangat kreatif
Kenapa saya bilang kreatif? Seperti yang saya sebut di poin 4, sinetron yang awal ceritanya meniru akhirnya berkembang sampai ceritanya amburadul dan tidak tahu lagi mau dibawa kemana ceritanya.
6.       Orang tua yang umurnya hampir sebaya anaknya
Seperti kata Timun di kartun yang kupasang, kadang saya bingung, ini mama si tokoh atau teman sih? Habisnya umurnya kok kayaknya sama. Mungkin pemain-pemain film senior banyak yang tidak mau main sinetron lagi. Yang paling sering itu yang jadi si ibu, yang jadi bapak masih ada yang tua-tua.
               
                Saya menulis ini bukan bermaksud menjelek-jelekan sinetron Indonesia. Saya Cuma prihatin dengan sinetron Indonesia. Padahal sinetron ini sudah dikritik di berbagai media, tapi kayaknya si pembuat sinetron tetap tidak peduli. Yang penting rating tinggi, buat apa peduli sama kritikan. Jadi ya terserah si pembuat sinetron. Sebenarnya masih banyak kekurangan di sinetron, tapi itu yang sudah saya lihat di sinetron. Fiuuhhh...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar